Kamis, 22 April 2010

ADAB PENUNTUT ILMU DALAM DIRINYA SENDIRI



1. Ilmu adalah Ibadah

Dasar dari segala dasar dalam 'bekal', bahkan untuk segala perkara yang dicari adalah engkau mengetahui bahwa ilmu adalah ibadah, dan atas dasar itu maka syarat ibadah adalah:

1) Ikhlas karena Allah سبحانه و تعالي, berdasarkan firman Allah سبحانه و تعالي:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَآءَ

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah سبحانه و تعالي dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus,. (QS. al-Bayyinah:5)

Dan dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم bersabda: 'Sesungguhnya segala amal disertai [tergantung] niat...' [1]

Maka jika ilmu sudah kehilangan niat yang ikhlas, ia berpindah dari ketaatan yang paling utama kepada kesalahan yang paling rendah dan tidak ada sesuatu yang meruntuhkan ilmu seperti riya, sum'ah dan yang lain nya.

Atas dasar itulah, maka engkau harus membersihkan niatmu dari segala hal yang mencemari kesungguhan menuntut ilmu, seperti ingin terkenal dan melebihi teman-teman. Maka sesungguhnya hal ini dan semisalnya, apabila mencampuri niat niscaya ia merusaknya dan hilanglah berkah ilmu. Karena inilah engkau harus menjaga niatmu dari pencemaran keinginan selain Allah سبحانه و تعالي, bahkan engkau menjaga daerah terlarang.

2) Perkara yang menggabungkan kebaikan dunia dan akhirat: yaitu cinta kepada Allah سبحانه و تعالي dan rasul-Nya dan merealisasikannya dengan mutaba'ah dan mengikuti jejak langkah beliau.



2. Jadilah Engkau Seorang Salafi

Jadikanlah dirimu seorang salafi yang sungguh-sungguh, jalan salafus shalih dari kalangan sahabat radhiyallahu 'anhum dan generasi selanjutnya yang mengikuti jejak langkah mereka dalam semua bab agama dalam bidang tauhid, ibadah dan lainnya.



3. Selalu Takut Kepada Allah سبحانه و تعالي

Berhias diri dengan membangun lahir dan batin dengan sikap takut kepada Allah سبحانه و تعالي, menjaga syi'ar-syi'ar islam, menampakkan sunnah dan menyebarkannya dengan mengamalkan dan berdakwah kepadanya.

Hendaklah engkau selalu takut kepada Allah سبحانه و تعالي dalam kesendirian dan bersama orang banyak. Sesungguhnya sebaik-baik manusia adalah yang takut kepada Allah سبحانه و تعالي, dan tidak takut kepada-Nya kecuali orang yang berilmu. Dan jangan hilang dari ingatanmu bahwa seseorang tidak dipandang alim kecuali apabila ia mengamalkan, dan seorang alim tidak mengamalkan ilmunya kecuali apabila ia selalu takut kepada Allah سبحانه و تعالي.



4. Senantiasa Muraqabah:

Berhias diri dengan senantiasa muraqabah kepada Allah سبحانه و تعالي dalam kesendirian dan kebersamaan, berjalan kepada Rabb-nya di antara sikap khauf (takut) dan raja` (mengharap), bagi seorang muslim kedua sifat itu bagaimana dua sayap bagi burung.



5. Merendahkan Diri Dan Membuang Sikap Sombong Dan Takabur

Hiasilah dirimu dengan adab jiwa, berupa sikap menahan diri dari meminta, santun, sabar, tawadhu terhadap kebenaran, sikap tenang dan rendah diri, memikul kehinaan menuntut ilmu untuk kemuliaan ilmu, berjuang untuk kebenaran. Jauhilah sikap sombong, sesungguhnya ia adalah sikap nifak dan angkuh. Salafus shalih sangat menjauhi sikap tercela tersebut.

Jauhilah penyakit sombong, maka sesungguhnya sikap sombong, tamak dan dengki adalah dosa pertama yang dilakukan terhadap Allah سبحانه و تعالي. Sikap congkakmu terhadap gurumu adalah sikap sombong. Sikap engkau meremehkan orang yang memberi faedah kepadamu dari orang yang lebih rendah darimu adalah sikap sombong. Kelalainmu dalam mengamalkan ilmu merupakan tanda kesombongan dan tanda terhalang.



6. Qana'ah dan Zuhud

Berbekal diri dengan sikap qana'ah (merasa cukup dengan yang ada) dan zuhud. Hakikat zuhud adalah: Enggan terhadap yang haram, menjauhkan diri dari segala syubhat dan tidak mengharapkan apa yang miliki orang lain. Dan atas dasar itulah, hendaklah ia sederhana dalam kehidupannya dengan sesuatu yang tidak merendahkannya, di mana dia dapat menjaga diri dan orang yang berada dalam tanggungannya, dan tidak mendatangi tempat-tempat kehinaan.



7. Berhias Diri Dengan Keindahan Ilmu

Diam yang baik dan petunjuk yang shalih berupa ketenangan, khusyuk, tawadhu', tetap dalam tujuan dengan membangun lahir dan batin dan meninggalkan yang membatalkannya.



8. Berbekal Diri Dengan Sikap Muru`Ah

Berbekal diri dengan sikap muru`ah dan yang membawa kepadanya berupa akhlak yang mulia, bermuka manis, menyebarkan salam, sabar tergadap manusia, menjaga harga diri tanpa bersikap sombong, berani tanpa sikap fanatisme, bersemangat tinggi bukan atas dasar kebodohan.

Oleh karena itu, tinggalkanlah sifat yang merusak muru`ah (kesopanan) berupa pekerjaan yang hina atau teman yang rendah seperti sifat ujub, riya, sombong, takabur, merendahkan orang lain dan berada di tempat yang meragukan.



9. Bersikap Jantan Termasuk Sikap Berani.

Keras dalam kebenaran dan akhlak yang mulia, berkorban di jalan kebaikan sehingga harapan orang menjadi terputus tanpa keberadaanmu.

Atas dasar itu, hindarilah lawannya berupa jiwa yang lemah, tidak penyabar, akhlak yang lemah, maka ia menghancurkan ilmu dan memutuskan lisan dari ucapan kebenaran.



10. Meninggalkan Kemewahan

Jangan terlalu berlebihan dalam kemewahan, maka sesungguhnya 'kesederhanaan termasuk bagian dari iman', ingatlah wasiat Umar bin Khathab رضي الله عنه: 'Jauhilah kenikmatan, pakaian bangsa asing, dan bersikaplah sederhana dan kasar...'

Atas dasar itulah, maka jauhilah kepalsuan peradaban, sesungguhnya ia melemahkan tabiat dan mengendurkan urat saraf, mengikatmu dengan benang ilusi. Orang-orang yang serius sudah mencapai tujuan mereka sedangkan engkau tetap berada di tempatmu, sibuk memikirkan pakaianmu...

Hati-hatilah dalam berpakaian karena ia mengungkapkan pribadimu bagi orang lain dalam berafiliasi, pembentukan dan perasaan. Manusia mengelompokkan engkau dari pakaianmu. Bahkan, tata cara berpakain memberikan gambaran bagi yang melihat golongan orang yang berpakaian berupa ketenangan dan berakal, atau keulamaan atau kekanak-kanakan dan suka menampilkan diri.

Maka pakailah sesuatu yang menghiasimu, bukan merendahkanmu, tidak menjadikan padamu ucapan bagi yang berkata (maksudnya, orang lain tidak memberikan komentar, pent.) dan ejekan bagi yang mengejek.

Jauhilah pakaian kekanak-kanakan, tidak berarti kamu memakai pakaian yang tidak jelas, akan tetapi sederhana dalam berpakaian dalam gambaran syara', yang diliputi tanda yang shalih dan petunjuk yang baik.



11. Berpaling dari Majelis yang Sia-Sia:

Janganlah engkau berkumpul dengan orang-orang yang melakukan kemungkaran di majelis mereka, menyingkap tabir kesopanan. Maka sesungguhnya dosamu terhadap ilmu dan pemiliknya sangat besar.



12. Berpaling dari Kegaduhan

Memelihara diri dari keributan dan kegaduhan, maka sesungguhnya berada atau suka dalam sebuah kegaduhan atau keributan bertentangan dengan adab menuntut ilmu.



13. Berhias Dengan Kelembutan

Hendaklah selalu lembut dalam ucapan, menjauhi kata-kata yang kasar, maka sesungguhnya ungkapan yang lembut menjinakkan jiwa yang membangkang.



14. Berpikir

Berhias dengan merenung, maka sesungguhnya orang yang merenung niscaya mendapat, dan dikatakan: renungkanlah niscaya engkau mendapat.



15. Teguh dan Kokoh

Berhiaslah dengan sikap teguh dan kokoh, terutama di dalam musibah dan tugas penting. Dan di dalamnya: sabar dan teguh di saat tidak bertemu dalam waktu yang lama dalam menuntut ilmu dengan para guru, maka sesungguhnya orang yang teguh akan tumbuh.


TATA CARA MENUNTUT DAN MENGAMBIL ILMU

1. Tata Cara Menuntut Ilmu dan Tingkatannya

Barangsiapa yang tidak mantap dalam ilmu dasar niscaya ia terhalang untuk sampai dan barangsiapa yang mencari ilmu secara menyeluruh niscaya ia akan mendapatkan nya secara menyeluruh, dan atas dasar itulah maka harus memulai dari dasar bagi setiap bidang ilmu yang dituntut, dengan cara mencatat dasar dan kesimpulannya di hadapan syaikh yang baik.

Firman Allah سبحانه و تعالي:

وَقُرْءَانًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنزِيلاً

Dan al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian. (QS. al-Isra:106)



وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلاَ نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْءَانُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلاً

Berkatalah orang-orang kafir:"Mengapa al-Qur'an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar). (QS. al-Furqan:32)

Ada beberapa hal yang harus kamu perhatikan di dalam setiap mata pelajaran yang kamu tuntut:

1) Menghapal mukhtashar (ringkasan).

2) Mempelajarinya di hadapan guru yang pandai.

3) Tidak menyibukkan diri dengan kitab besar dan berbagai macam kitab sebelum mempelajari dan mantap dalam ilmu dasarnya.

4) Jangan berpindah dari satu kitab mukhtashar (ringkas) kepada kitab lain tanpa alasan. Ini termasuk pengganggu.

5) Mencatat faedah ilmiyah.

6) Menyatukan jiwa untuk menutut ilmu dan mempelajari nya, dan bersungguh-sungguh untuk mendapat ilmu dan mencapai yang lebih di atas, sehingga ia bisa mempelajari kitab-kitab besar dengan cara yang benar.

Dan ketahuilah, sesungguhnya menyebutkan kitab-kitab ringkas sampai kitab-kitab besar yang menjadi dasar dalam menuntut ilmu dan mempelajarinya di hadapan syaikh, biasanya berbeda satu daerah/negara dengan negara yang lain, menurut perbedaan mazhab serta berdasarkan pengalaman belajar para ulama di daerah tersebut.

Para ulama di negara ini (kerajaan Saudi Arabia-KSA) melewati tiga tingkatan dalam belajar di hadapan para guru dalam pengajian di masjid-masjid: mubtadiin (pemula), kemudian mutawassith (pertengahan), kemudian mutamakkin (pemantapan).

Dalam belajar tauhid: tsalatsatu ushul wa adillatuha (tiga dasar dan dalil-dalilnya), qawa`id arba' (empat kaidah), kemudian kasyfu syubuhat (menyingkap syubhat), kemudian kitab tauhid.

Dalam belajar tauhid asma dan sifat: aqidah wasithiyah, kemudian al-Hamawiyah dan Tadmuriyah, lalu Thahawiyah bersama syarahnya.

Dalam mata pelajaran nahwu: al-Jurumiyah, kemudian Mulihatul i`rab karya al-Hariri, kemudian Qathrun nida` karya Ibnu Hisyam dan Alfiyah Ibnu Malik bersama syarahnya karya Ibnu Aqil.

Dalam bidang hadits: Arba`in an-Nawawiyah, kemudian Umdatul Ahkam karya al-Maqdisi, kemudian Bulughul Maram karya Ibnu Hajar dan al-Muntaqa karya al-Majd Ibnu Taimiyah.

Dalam bidang Mushthalah: Nukhbatul Fikr karya Ibnu Hajar kemudian Alfiyah al-Iraqi.

Dalam bidang fiqih misalnya: Adabul masyyi ila shalah, kemudian Zadul Mustaqna` karya al-Hajawi, atau 'Umdatul Fiqh, kemudian al-Muqni` untuk mempelajari khilaf dalam mazhab, dan al-Mughni untuk mempelajari perbedaan yang lebih tinggi.

Dalam Ushul Fiqh: al-Waraqat karya al-Juwaini, kemudian Raudhatun Nadhir karya Ibnu Quddamah.

Dalam ilmu faraidh: ar-Rahbiyah, kemudian bersama syarahnya, dan Fawaid Jaliyah.

Dalam tafsir: tafsir Ibnu Katsir.

Dalam ushul tafsir: al-Muqaddimah karya Ibnu Taimiyah.

Dalam sirah: Mukhtashar sirah nabawiyah karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan asalnya karya Ibnu Hisyam, dan dalam Zadul Ma'ad karya Ibnul Qayyim.

Dalam bidang lisanul arab (bahasa arab): banyak mempelajari syair-syairnya seperti Mu`allaqat sab`, membaca qamus al-Muhith karya Fairuzabadi, rahmatullahi 'alaihim jami`an.



2. Mengambil Ilmu dari Para Ulama

Dasar dalam menuntut ilmu adalah dengan cara talqin dan talaqqi (belajar langsung) dari para ulama, mengambil dari mulut para masyayikh, bukan [hanya] langsung dari tulisan dan kitab.

Auza`i berkata: ilmu ini (syari'at) sangat mulia, satu sama lain saling belajar silih berganti, maka tatkala masuk dalam kitab, masuklah di dalamnya yang bukan ahlinya.


ADAB PENUNTUT ILMU DALAM KEHIDUPAN ILMIYAHNYA

1. Semangat Tinggi Dalam Ilmu

Antara tabiat Islam adalah berhias diri dengan semangat tinggi, dalam ilmu maka ia akan memberimu (dengan ijin Allah سبحانه و تعالي) kebaikan yang tidak terputus, agar engkau naik pada derajat yang sempurna. Maka mengalirlah di dalam pembuluh darah (urat) yaitu darah kecerdasan, dan melompat di lapangan ilmu dan amal.

Janganlah engkau melakukan kesalahan, lalu engkau campur adukan di antara semangat tinggi dan kesombongan, semangat tinggi adalah hiasan warisan para nabi dan sombong adalah penyakit orang yang sakit dengan penyakit orang-orang yang angkuh.


2. Bergairah Dalam Menuntut Ilmu

Engkau harus memperbanyak warisan Nabi muhammad صلي الله عليه وسلم dan kerahkanlah kemampuanmu dalam menuntut ilmu dan mencari, sebanyak apapun ilmu yang ada padamu. Ingatlah: Berapa banyak yang ditinggalkan generasi terdahulu untuk generasi berikutnya."


3. Melakukan Perjalanan Jauh Dalam Menuntut Ilmu

Barangsiapa yang tidak melakukan perjalanan jauh dalam menuntut ilmu untuk mencari para ulama dan mengambil ilmu dari mereka, maka ia tidak pantas untuk dituju kepadanya (untuk diambil ilmunya): karena para ulama tersebut telah melewati waktu lama dalam belajar dan mengajar: mereka mempunyai tahrirat (editan), catatan, kutipan-kutipan ilmu, dan pengalaman yang susah didapatkan atasnya atau bandingannya di dalam kitab-kitab. Janganlah engkau mengambil ilmu dari para sufi yang lebih mengutamakan ilmu (yang aneh) terhadap ilmu (yang ada dalam kitab).


4. Menjaga Ilmu Secara Tertulis

Usahakanlah selalu menjaga ilmu (menyimpan kitab) karena mengikat ilmu dengan tulisan yang aman dari pada tersia-sia, memendekkan jarak saat membutuhkan, terutama faedah-faedah yang berharga, masalah-masalah yang berada di tempat yang tidak biasanya, permata-permata yang bertebaran yang engkau lihat dan dengar, karena khawatir akan terlupakan. Sesungguhnya hapalan melemah dan lupa selalu datang. Apabila terkumpul padamu berbagai macam catatan, maka kumpulkanlah dalam catatan khusus sesuai judulnya. Sesungguhnya ia membantumu di saat mendesak yang terkadang susah didapatkan dari orang lain.


5. Menjaga Ri'ayah

Usahakanlah menjaga ilmu (menjaga secara ri'ayah) dengan mengamalkan dan mengikuti. Engkau harus memurnikankan niatmu dalam menuntutnya. Jangalah engkau menjadikannya sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Jauhilah sikap sombong dan bangga dengannya. Jadikanlah hapalanmu dalam hadits sebagai hapalan ri'ayah bukan menghapal riwayat. Sudah seharusnya penuntut ilmu tampil berbeda dalam berbagai aspek kehidupannya dari kalangan awam dengan mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah صلي الله عليه وسلم sejauh mungkin dan mempraktekkan sunnah-sunnah terhadap dirinya.


6. Menjaga Hapalan

Jagalah ilmu yang engkau dapatkan dari waktu ke waktu, sesungguhnya tidak menjaga ilmu adalah pertanda hilangnya ilmu tersebut. Apabila al-Qur`an yang mudah untuk dihapal bisa hilang jika tidak dipelihara, maka bagaimana dengan ilmu-ilmu lainnya? Sebaik-baik ilmu adalah yang didhabit (dicatat, dijaga) dasarnya dan diulang-ulangi cabangnya, membawa kepada Allah سبحانه و تعالي dan menuntun kepada ridha-Nya.


7. Memahami Dengan Mentakhrij (Mengeluarkan) Cabang Di Atas Dasar

Dalam hadits Ibnu Mas'ud رضي الله عنه, bahwa Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: "Semoga Allah سبحانه و تعالي memberi cahaya kepada seseorang yang mendengarkan ucapanku, lalu menghapalnya, lalu menyampaikannya seperti yang didengarnya. Berapa banyak orang yang membawa/menghapal fiqh namun bukan seorang ahli fiqih, dan berapa banyak orang yang membawa fiqh kepada orang yang lebih fiqih darinya."

Ibnu Khair رحمه الله berkata: 'Dalam hadits ini menjelaskan bahwa fiqih adalah istinbath (menarik kesimpulan) dan mendapatkan pengertian ucapan lewat jalur pemahaman. Dan dalam hal ini merupakan penjelasan kewajiban memahami, meneliti makna hadits, dan mengeluarkan yang tersembunyi dari rahasianya.' Ketahuilah, sebelum memahami harus terlebih dahulu memikirkan dengan melakukan pemikiran mendalam dalam kerajaan langit dan bumi, hingga seseorang memikirkan pada dirinya dan apa yang ada di sekitarnya. Kamu harus memahami nash syara' dan memikirkan apa yang meliputi tasyri', merenungkan maqashid (tujuan) syari'at. Seorang faqih adalah orang yang menghadapi peristiwa yang tidak ada nash padanya maka ia mengambil hukum baginya.


8. Kembali Kepada Allah سبحانه و تعالي Dalam Menuntut Dan Mencari Ilmu

Janganlah engkau merasa gelisah apabila belum dibukakan ilmu untukmu. Terkadang sebagian ilmu tidak bisa masuk karena terhalang nama-nama yang terkenal. Wahai penuntut ilmu, lipat gandakanlah keinginan, bersimpuhlah kepada Allah سبحانه و تعالي dalam berdoa dan kembali kepada-Nya.


9. Amanah Ilmiyah

Penuntut ilmu harus berakhlak setinggi mungkin dengan amanah ilmiyah dalam menuntut ilmu, memikul (menghapal), mengamalkan, menyampaikan dan mengajar. Maka sesungguhnya keberuntungan suatu umat berada dalam kebaikan amal perbuatannya, dan kebaikan amal perbuatannya ada dalam kebenaran ilmunya, dan kebenaran ilmunya tergantung pada rijalnya (pembawanya) yang amanah pada sesuatu yang mereka riwayatkan atau mereka gambarkan.


10. Jujur/benar:

Jujur lahjah adalah tanda ketenangan, kemuliaan jiwa yang tersembunyi, ketinggian himmah (semangat, cita-cita), dan kematangan aqal. al-Auza'i berkata: 'Belajarlah kejujuran sebelum belajar ilmu.' Shidq (benar, jujur) adalah: menyampaikan ucapan sesuai realita dan kayakinan. Jujur, benar itu hanya ada dalam satu jalur. Adapun lawannya yaitu bohong/dusta maka ada tiga:

1) Dusta penjilat: yaitu yang menyalahi realita dan keyakinan, seperti orang yang menjilat kepada orang yang dikenalnya seorang yang fasik atau ahli bid'ah, lalu ia menggambarkannya sebagai orang yang istiqamah.

2) Dusta munafik: yaitu yang menyalahi keyakinan dan tidak sesuai realita, seperti orang munafik yang bertutur seperti yang dikatakan Ahlus Sunnah.

3) Dusta orang yang bodoh: yaitu yang tidak sesuai realita dan sesuai keyakinan, seperti orang yang meyakini kebenaran ajaran kaum sufi dan bid'ah, lalu ia mengganggapnya sebagai wali. Wahai penuntut ilmu, waspadalah keluarnya engkau dari kebenaran/kejujuran kepada kebohongan.


11. Perisai Penuntut Ilmu: yaitu 'tidak tahu', karena ia adalah setengah ilmu. Maka setengah bodoh adalah 'kata orang' dan 'saya kira'.


12. Menjaga Modal Hartamu (Detik-Detik Usiamu):

Ambilah waktumu untuk mendapatkan ilmu. Jadilah engkau sekutu beramal, bukan sekutu penganggur. Jagalah waktu dengan sungguh-sungguh, selalu menuntut ilmu, senantiasa bersama para syaikh, sibuk menuntut ilmu dengan membaca, membacakan, muthala'ah, tadabbur, menghapal dan meneliti, terutama di masa muda. Mamfaatkanlah kesempatan yang sangat mahal ini agar engkau mendapatkan tingkatan ilmu yang tinggi. Hindarilah menunda-nunda seperti setelah selesai pekerjaan ini, setelah pensiun, tetapi bersegeralah. Jika engkau mengamalkannya maka merupakan bukti bahwa engkau memikul 'semangat besar dalam ilmu'.


13. Rileks (Menenangkan Jiwa)

Ambilah sebagian waktumu untuk istirahat dalam taman ilmu dari kitab-kitab pengetahuan umum, sesungguhnya hati memerlukan sedikit istirahat (rileks). Dari Ali bin Thalib RA berkata: 'Istirahatkanlah hati ini, sesungguhnya ia bisa merasa bosan sebagaimana badan merasa bosan."


14. Membaca Sambil Mentashhih (Membetulkan) Dan Dhabith (Mencatat)

Berusahalah untuk membaca dengan mentashhhih dan mencatat di hadapan guru (syaikh) yang ahli, agar engkau aman dari tahrif (penyimpangan), tashhihf (kesalahan tulisan, cetak), kekeliruan dan waham.


15. Meringkas Kitab-Kitab Besar

Termasuk yang paling penting untuk memperluas pengetahuan, memperdalam pemahaman, mengeluarkan faedah yang tersimpan, dan mengenal metode para pengarang dalam karangan dan istilah mereka padanya.


16. Pertanyaan yang Baik

Hendaklah selalu beradab dalam bertanya, sesungguhnya ia termasuk pertanyaan yang baik, lalu mendengarkan, lalu pemahaman yang benar terhadap jawaban. Apabila telah dijawab, jangan sampai engkau mengatakan: akan tetapi ya syaikh, fulan berkata kepadaku seperti ini, atau ia berkata seperti. Maka sesungguhnya ini termasuk kurang dalam adab dan mengadu domba ulama satu sama lain. Jika engkau harus melakukan maka katakanlah: 'Apakah pendapatmu tentang fatwa seperti ini, dan jangan engkau menyebutkan nama seseorang.


17. Bertukar Pendapat Tanpa Berdebat (Tanpa Tujuan)

Jauhilah perdebatan tanpa akhir, sesungguhnya ia adalah siksaan. Adapun bertukar pendapat (berdebat) dalam kebenaran maka sungguh ia adalah nikmat dan padanya menampakkan kebenaran di atas kebatilan, yang rajih atas yang marjuh. Ia dibangun atas dasar saling menasehati, santun, dan menyebarkan ilmu. Adapun perdebatan (tanpa tujuan) dalam diskusi maka sesungguhnya ia adalah pertengkaran dan riya, suara hiruk pikuk dan kesombongan, saling mengalahkan dan pertengkaran.


18. Mudzakarah Ilmu

Nikmatilah bersama para ahli dengan mudzakarah, sungguh ia berada di tempat yang melebih muthala'ah, mengisi hati, menguatkan ingatan, selalu netral dan santun, jauh dari penyimpangan dan resiko. Dan engkau mudzakarah bersama dirimu sendiri dalam memecahkan masalah.


19. Penuntut Ilmu Hidup di Antara Al-Qur`an dan Sunnah Serta Ilmu-Ilmu yang Terkait Dengan Keduanya:

Keduanya bagi penuntut ilmu bagaikan sayap, maka hati-hatilah, jangan sampai engkau kehilangan sayap.


20. Melengkapi Ilmu Pengantar (Ilmu Alat) Setiap Bidang Ilmu

Engkau tidak akan bisa menjadi penuntut ilmu yang ahli lagi menguasai berbagai bidang ilmu selama engkau belum melengkapi alat-alat disiplin ilmu tersebut. Maka dalam ilmu fiqh di antara fiqh dan ushulnya, di dalam hadits di antara ilmu riwayah dan dirayah…..dan seterusnya. Dan jika tidak demikian maka engkau tidak akan berhasil.

BERHIAS DIRI DENGAN AMAL IBADAH


1. Di Antara Tanda Ilmu yang Bermanfaat:

a. Mengamalkannya.

b. Tidak suka sanjungan dan pujian serta tidak sombong terhadap orang lain.

c. Engkau bertambah tawadhu' (rendah diri) setiap kali bertambah ilmu.

d. Menghindar dari suka pujian, terkenal dan dunia.

e. Tidak mengaku punya ilmu.

f. Berburuk sangka terhadap diri sendiri dan berbaik sangka (husnuzh zhan) terhadap orang lain.

2. Mengeluarkan Zakat Ilmu

Tunaikan zakat ilmu untuk menyampaikan kebenaran, menyuruh yang ma'ruf, melarang yang mungkar, menjaga keseimbangan di antara mashlahat dan madharrat, menyebarkan ilmu, menyukai manfaat, memberikan syafaat bagi kaum muslimin dalam kebenaran dan kebaikan.

Berusahalah menjaga pakaian (bekal) ini, ia merupakan pokok buah ilmu yang engkau dapatkan. Dan karena kemuliaan ilmu, maka ia menjadi bertambah karena diinfakkan dan berkurang karena disimpan, dan penyakitnya adalah disembunyikan. Dan janganlah karena alasan zaman yang sudah rusak, banyak orang fasik, nasehat tidak berfaedah mendorong engkau untuk tidak menunaikan kewajiban berdakwah. Maka jika engkau melakukan hal itu, maka ia merupakan perbuatan yang diinginkan oleh orang-orang fasik untuk bisa keluar meninggalkan keutamaan dan mengangkat bendera kehinaan.


3. Izzatul Ulama (Kemuliaan Ulama)

Berhias diri dengan (izzatul ulama): untuk menjaga ilmu dan mengagungkannya. Maka janganlah engkau mau dimanfaatkan oleh orang-orang sombong atau bodoh, maka janganlah engkau lemah dalam berfatwa, atau memutuskan perkara, atau riset, atau ucapan...Maka janganlah engkau berjalan dengannya kepada ahli dunia dan janganlah engkau berdiri di atas pundak mereka, janganlah engkau berikan kepada bukan ahlinya sekalipun tinggi kedudukannya.

Berilah kenikmatan kepada penglihatan dan mata hatimu dengan membaca biografi dan riwayat para imam yang telah mendahului niscaya engkau melihat padanya pengorbanan jiwa dalam menjaga jalan ini, terutama orang yang menggabungkan contoh teladan dalam hal ini.


4. Menjaga Ilmu

Jika engkau telah mendapatkan kedudukan, ingatlah selalu bahwa benang merah yang menyampaikan engkau kepadanya adalah menuntut ilmu. Maka dengan karunia Allah سبحانه و تعالي, kemudian karena menuntut ilmu engkau telah mencapai kedudukan dalam mengajar, atau berfatwa, atau qadha, maka berikanlah ilmu sesuai kedudukannya berupa mengamalkannya dan menempatkan di tempat layak.

Hindarilah jalan orang-orang yang menjadikan dasar (menjaga kedudukan), maka mereka menutup lidah mereka dari perkataan yang benar dan mendorong mereka menyukai wilayah dari mujarah.


5. Mudarah, bukan Mudahanah:

Mudahanah adalah akhlak yang rendah. Adapun mudarah, maka ia tidak seperti itu. Oleh karena itu janganlah engkau campur adukan di antara keduanya. Maka mudahanah mendorongmu mendatangkan sifat nifak secara terbuka, dan mudahanah itulah yang menyentuh agamamu.


6. Rindu dengan Kitab-kitab

Kemuliaan ilmu sudah diketahui karena manfaatnya yang nyata dan sudah menjadi kebutuhan. Karena inilah para penuntut ilmu sangat rindu untuk menuntut ilmu dan rindu untuk mengumpulkan kitab-kitab disertai memilih/menyaring.


7. Melengkapi Maktabahmu

Hendaklah engkau memiliki kitab-kitab yang ditulis dengan cara mengambil dalil dan memahami illat-illat hukum, serta mendalami rahasia masalah, dan yang paling utama adalah kitab-kitab karya:

a. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

b. Ibnul Qayyim.

c. Ibnu Abdil Barr, terutama kitab at-Tamhid.

d. Ibnu Quddamah, terutama kitab al-Mughni.

e. adz-Dzahabi.

f. Ibnu Katsir.

g. Ibnu Rajab.

h. Ibnu Hajar.

i. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab.

j. Kitab-kitab ulama dakwah, dan di antara yang menggabungkannya adalah kitab ad-Durarus Saniyah.

k. ash-Shan'ani, terutama kitab Subulus Salam.

l. Shidiq Hasan Khan al-Khanuji.

m. Al-'Allamah Muhammad al-Amin asy-Syanqithi, terutama kitabnya 'Adhwaul Bayan'. Dan kitab-kitab lainya yang sangat banyak.


8. Berinteraksi Dengan Kitab

Engkau tidak bisa mengambil faedah dari kitab apapun sehingga engkau mengetahui istilah yang digunakan pengarang di dalamnya, dan biasanya muqaddimah mengungkapkan hal itu. Maka mulailah membaca muqaddimah (pengantar) setiap kitab.


9. Membuka Kitab Sebelum Meletakkannya Di Perpustakaan

Apabila engkau mengoleksi suatu kitab, maka janganlah engkau letakkan di perpustakaanmu kecuali setelah membukanya, atau membaca pengantarnya, daftar isi dan beberapa tempat darinya. Adapun jika engkau meletakkannya bersama yang lain di perpustakaan, mungkin setelah berlalu beberapa waktu dan usia terus berjalan sedang engkau tidak sempat melihat kitab tersebut.


10. Menjelaskan Penulisan

Apabila engkau menulis, maka perjelaslah tulisan dengan menghilangkan ketidakjelasan, dan hal itu dengan berbagai cara:

a. Tulisan yang jelas.

b. Tulisanya menurut qaidah imla (penulisan).

c. Memberikan titik bagi yang bertitik dan menghilangkan titik bagi yang tidak bertitik.

d. Memberi harakat (baris) bagi yang rumit.

e. Memberi tanda baca selain al-Qur`an dan hadits.

PERINGATAN-PERINGATAN


1. Mimpi di Saat Jaga

Hindarilah bermimpi di saat jaga, dan di antaranya adalah bahwa engkau mengaku mengetahui sesuatu yang engkau tidak ketahui, atau menguasai sesuatu yang tidak engkau kuasai. Jika engkau melakukan hal itu maka ia merupakan hijab (penghalang) tebal untuk mendapatkan ilmu.


2. Janganlah Engkau Menjadi 'Aba Syibr'

Dikatakan: ilmu ada tiga jengkal, barangsiapa yang masuk di jengkal pertama niscaya ia sombong, dan barangsiapa yang masuk di jengkal kedua niscaya ia tawadhu' (rendah diri), dan barangsiapa yang masuk di jengkal ketiga niscaya ia mengetahui bahwa ia tidak mengetahui.


3. Maju ke Depan (Menjadi Pemimpin) Sebelum Ahli:

Hindarilah maju ke depan sebelum ahli, maka ia merupakan penyakit dalam ilmu dan amal.

4. Tanammur (seolah-olah ahli) dengan ilmu:

Hindarilah apa yang dilakukan oleh orang-orang yang bangkrut dalam ilmu, ia muraja'ah satu masalah atau dua masalah. Lalu apabila di satu majelis ada orang yang dijadikan panutan, ia membahas dua masalah itu untuk menampakan ilmunya. Perbuatan ini sangat buruk, setidaknya ia mengetahui bahwa manusia mengetahi hakikatnya.


5. Tahibir Kaghid (kertas):

Sebagaimana harus berhati-hati dari karangan yang mengandung bid'ah dan yang akhirnya adalah tahbir kaghid,[1] maka hindarilah mengarang sebelum sempurna alat-alatnya, cukup kemampuanmu, dan matang di atas tangan guru-gurumu.

Adapun mengarang ilmu yang bermanfaat bagi seseorang yang sudah mampu, sempurna alatnya, luas pengetahuannya, sudah terlatih melakukan riset, muraja'ah, muthala'ah, meringkas yang panjang/besar, menghapal yang ringkas, dan mengingat masalah-masalahnya, maka ia merupakan amal yang paling utama yang dilakukan oleh orang-orang cerdas dari orang-orang yang utama.


6. Sikapmu Terhadap Kekeliruan Pendahulumu

Apabila engkau menemukan kekeliruan seorang ulama maka janganlah engkau merasa senang untuk merendahkannya, akan tetapi berbahagialah dengannya karena meluruskan masalah, mengingatkan kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan seorang imam yang penuh dalam lautan ilmu dan keutamaannya. Akan tetapi tidak membangkitkan fitnah atasnya dengan merendahkannya, maka terperdaya dengannya orang yang awam.

7. Jauhilah Syubhat

Hindarilah membangkitkan syubhat dan mendatangkannya atas dirimu atau orang lain. Syubhat itu adalah penculik dan hati itu sifatnya lemah, dan yang paling banyak menyebarkannya adalah ahli bid'ah, maka hindarilah mereka.

8. Hindarilah Lahn (Kesalahan Ucapan dan Bahasa)

Hindarilah kesalahan dalam ucapan dan tulisan, maka sesungguhnya tidak ada lahn merupakan kebesaran, kebersihan perasaan, berhenti di atas makna yang indah untuk keselamatan susunan kata.

9. Aborsi Pemikiran

Hindarilah aborsi pemikiran dengan mengeluarkan pemikiran sebelum matang.


10. Israiliyat Baru (Neo-Israiliyat)

Hindarilah israiliyat gaya baru dalam hembusan para orentalis dari kaum yahudi dan kristen, maka lebih berbahaya daripada israiliyat lama. Sebagian kaum muslimin telah mengambil darinya dan yang lain tunduk baginya, maka janganlah engkau terjerumus padanya.

11. Hindarilah Perdebatan Bizanthi

Maksudnya perdebatan yang mandul atau tidak berarti. Dulu bangsa Bizantium (Roma?) memperdebatkan tentang jenis kelamin malaikat sedangkan musuh sudah berada di pintu gerbang negeri mereka hingga menyerang mereka. Dan petunjuk salaf: Menahan diri dari banyak pertengkaran dan perdebatan, dan sesungguhnya terlalu banyak padanya termasuk tanda sedikit sifat wara'.

12. Tidak Ada Kelompok dan Tidak Pula Partai yang Diikrarkan Sikap Wala' dan Bara' Atasnya:

Dasar Islam bahwa tidak ada bagi mereka tanda selain Islam dan perdamaian. Wahai penuntut ilmu, semoga Allah سبحانه و تعالي memberi berkah padamu dan ilmu engkau, tuntutlah ilmu, amalkanlah, dan berdakwahlah karena Allah سبحانه و تعالي menurut metode salaf. Jangalah engkau termasuk orang yang suka keluar masuk dalam jamaah (kelompok-kelompok), maka engkau keluar dari yang luas kepada lobang yang sempit. Islam semuanya adalah untukmu secara sungguh dan manhaj. Semua kaum muslimin adalah jamaah, dan sesungguhnya tangan Allah سبحانه و تعالي bersama jamaah. Maka tidak ada kelompok dan tidak pula partai di dalam Islam.

Maka hindarilah (semoga Allah سبحانه و تعالي memberi rahmat kepadamu) partai-partai dan kelompok-kelompok yang pengikutnya mengelilinginya. Tidak lain ia menyerupai air mancur, mengumpulkan air dalam kondisi keruh dan memisahkannya secara sia-sia. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Rabb-mu, maka ia berada di atas petunjuk Nabi Muhammad صلي الله عليه وسلم dan para sahabatnya رضي الله عنهم.

13. Pembatal-Pembatal Bekal Ini

Ketahuilah, sesungguhnya di antara pembatal 'bekal' ini, yang merusak tatanannya adalah:

1) Membuka rahasia.

2) memindah ucapan dari satu golongan kepada golongan yang lain.

3) Membual dan banyak omong.

4) Banyak bercanda.

5) Masuk dalam pembicaraan di antara dua orang.

6) Dendam.

7) Dengki.

8) Buruk sangka.

9) Duduk bersama ahli bid'ah.

10) Melangkahkan kaki kepada yang diharamkan.

Maka hati-hatilah dari dosa-dosa ini dan sejenisnya, pendekkanlah langkahmu dari semua yang diharamkan. Jika engkau lakukan, maka sungguh engkau memiliki iman yang tipis. Maka dimanakah engkau bahwa engkau seorang penuntut ilmu yang diisyaratkan dengan telunjuk, penuh dengan ilmu dan amal.

Semoga Allah سبحانه و تعالي meluruskan langkah, memberikan taqwa kepada kita semua, baik di dunia maupun akhirat.

Semoga rahmat dan salam Allah سبحانه و تعالي senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Dan akhir doa kita adalah "segala puji hanya bagi Allah سبحانه و تعالي Rabb semesta alam".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar